Bangunharjo, Bantul — Kekayaan kuliner lokal kembali menjadi bagian menarik dari pengalaman wisata di Kalurahan Bangunharjo. Tiga orang wisatawan asal Italia berkunjung ke Kelompok Wanita Tani (KWT) Rahayu untuk mengenal secara langsung proses pembuatan tempe, salah satu produk pangan tradisional sekaligus masakan khas Indonesia.
Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya pengembangan ekosistem destinasi wisata desa di Kalurahan Bangunharjo, yang didukung oleh Divisi Destinasi Wisata dan Ekonomi Kreatif BUMKAL Bangkit Karya Bangunharjo. Konsep tersebut mendorong agar potensi masyarakat, termasuk aktivitas pertanian, pengolahan pangan, kuliner, dan kreativitas warga, dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata yang autentik.
Dalam kunjungan tersebut, Ibu Sumarni dari KWT Rahayu dengan didampingi oleh Azfa Pabulo berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada para wisatawan mengenai proses pembuatan tempe secara tradisional. Para wisatawan tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi diperkenalkan pada rangkaian proses sejak bahan baku dipersiapkan hingga tempe siap diolah menjadi makanan.
Dengan penuh antusias, ketiga wisatawan mengikuti penjelasan Ibu Sumarni mengenai tahapan pembuatan tempe. Proses tersebut menjadi pengalaman edukatif karena wisatawan dapat melihat secara langsung bagaimana kedelai diolah melalui proses tradisional hingga menjadi tempe yang dikenal luas sebagai salah satu pangan khas Indonesia.
Dari Belajar Membuat Tempe hingga Mencicipi Kuliner Indonesia
Pengalaman wisata kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mengolah tempe menjadi hidangan siap santap. Ibu Sumarni menjelaskan sekaligus mempraktikkan proses menggoreng tempe, sehingga para wisatawan dapat melihat bagaimana bahan pangan yang sebelumnya mereka kenal dalam bentuk produk jadi diproses menjadi makanan yang sederhana namun memiliki cita rasa khas Indonesia.
Para wisatawan juga berkesempatan mencicipi tempe goreng yang telah dibuat. Interaksi tersebut menciptakan pengalaman wisata yang lebih personal karena terjadi proses belajar, praktik, mencicipi makanan, dan berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal.
Kunjungan wisatawan asal Italia ini menunjukkan bahwa daya tarik wisata desa tidak selalu harus berupa objek wisata berskala besar. Aktivitas keseharian masyarakat dapat menjadi atraksi wisata ketika dikemas sebagai pengalaman yang menarik, edukatif, dan memiliki cerita.

Membangun Ekosistem Wisata Desa
Divisi Destinasi Wisata dan Ekonomi Kreatif BUMKAL Bangkit Karya Bangunharjo turut mendorong agar potensi masyarakat di Kalurahan Bangunharjo dapat terhubung dalam satu ekosistem destinasi. Kegiatan di KWT Rahayu menjadi salah satu contoh bagaimana kuliner lokal dan aktivitas pemberdayaan masyarakat dapat menjadi bagian dari perjalanan wisata desa.
Melalui konsep tersebut, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat tempat, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk belajar, berinteraksi, mencoba, dan merasakan kehidupan masyarakat desa secara langsung.
Kegiatan belajar membuat tempe bersama KWT Rahayu juga membuka peluang pengembangan paket wisata edukasi yang lebih luas, seperti “Tempe Experience”, yaitu paket wisata yang mengajak wisatawan mengenal bahan baku, proses pembuatan, praktik pengolahan, hingga menikmati tempe sebagai bagian dari kuliner Indonesia.
Pengalaman tiga wisatawan asal Italia tersebut menjadi contoh kecil namun penting bahwa kearifan lokal dan aktivitas masyarakat dapat menjadi kekuatan destinasi wisata desa. Dari kedelai, tempe, dapur sederhana, dan keramahan warga, Bangunharjo dapat menghadirkan pengalaman wisata yang autentik dan berkesan bagi wisatawan mancanegara.
Bangunharjo bukan hanya tempat untuk dikunjungi, tetapi tempat untuk mengalami, belajar, dan berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakatnya.
