Yogyakarta, 25 April 2025 – Kalurahan Bangunharjo, Bantul, bersiap menjadi destinasi wisata terpadu berbasis budaya dan ekonomi lokal melalui pengembangan Pusat Budaya & Mall Ndeso. Proyek ini merupakan hasil sinergi antara BUMKAL Bangkit Karya Bangunharjo dan Yayasan History Of Java (HOJ), dengan memanfaatkan alih fungsi Tanah Kas Kalurahan seluas 5000 meter. Rencana ini diharapkan menjadi one-stop tourist destination yang menggabungkan edukasi, pelestarian budaya, serta penguatan UMKM, sekaligus mendukung visi Bantul sebagai Smart City, Creative City, dan kota ramah anak.

Integrasi Budaya, Edukasi, dan Ekonomi
Pusat Budaya & Mall Ndeso akan menawarkan beragam fasilitas, seperti:
Museum History of Java – Menampilkan artefak sejarah Jawa dari masa prasejarah hingga kekinian, dilengkapi teknologi AR/VR untuk pengalaman interaktif.
Little Malioboro – Replika ikon Malioboro sebagai pusat belanja dan instagrammable spot tanpa kemacetan.
Creative Hub – Ruang kolaborasi komunitas kreatif, lokakarya animasi (Minilemon Movie Academy), serta pusat pengembangan UMKM dengan 240 m² area kios.
Wisata Edukasi – Program edukasi sejarah dan budaya Jawa untuk pelajar, mahasiswa, dan peneliti, termasuk tur virtual dan festival budaya.
Fasilitas Pendukung – Rest area strategis (Kampoeng Semarangan), mushola, area parkir, serta pedestrian yang terintegrasi dengan ring 1 Sumbu Filosofi Yogyakarta (warisan UNESCO).

Sinergi Multi-Pihak untuk Penguatan Ekonomi Lokal
Proyek ini merupakan sinergi BUMKAL Bangkit Karya Bangunharjo dan Yayasan Museum History of Java dengan payung hukum PT Mataram Bangkit Bersinerji yang juga melibatkan kolaborasi dengan pemerintah setempat, komunitas budaya, institusi pendidikan, dan UMKM. Melalui Business Model Canvas, pengelola menargetkan peningkatan pendapatan dari tiket museum, workshop, cafe budaya, dan sewa ruang. Tak hanya itu, keberadaan UMKM diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi desa, dengan dukungan promosi melalui media sosial dan kemitraan tour operator.
Berada di Jalan Parangtritis Km 5 (ring 1 Sumbu Filosofi), destinasi ini mudah diakses wisatawan domestik maupun mancanegara. Pada 2027, kompleks Museum HOJ direncanakan berevolusi menjadi Pusat Budaya & Mall Ndeso yang lebih terpadu, memperluas dampak ekonomi kreatif berbasis keistimewaan Yogyakarta.

Sementara itu GKR Bendara sebagai Penghageng Nityabudaya, bercerita tentang pengelolaan dan pengembangan museum di Keraton Yogyakarta. GKR Bendara dikenal sebagai sosok pembaharu wisata budaya Keraton, dengan fokus pada pengembangan museum dan penyajian koleksi yang lebih menarik dan edukatif. Saat ini GKR Bendara sedang berupaya mendorong revitalisasi museum di Keraton, termasuk penggunaan teknologi untuk meningkatkan daya tarik dan pengalaman pengunjung, terutama anak muda.
PT Mataram Bangkit Bersinerji mengharapkan GKR Bendara, selaku Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY diharapkan dapat mendukung proyek ini melalui integrasi dalam paket wisata regional, promosi digital, dan fasilitasi kolaborasi dengan stakeholder pariwisata. Dengan menggabungkan kekayaan budaya, teknologi, dan ekonomi lokal, Pusat Budaya & Mall Ndeso siap menjadi ikon baru wisata edukasi yang memadukan tradisi dan modernitas.
Sebelum acara ditutup GKR Bendoro juga menekankan pada penyajian koleksi museum yang lebih baik, dengan standar yang lebih tinggi dan lebih menarik bagi berbagai kalangan dengan tetap menjaga konservasi (kelestarian) museum itu sendiri.